Backpacker Menuju Museum Musik Dunia

0
180

Assalamualaikum Wr. Wb

Hari itu bukan hari libur. Aku mengambil cuti untuk berwisata. Kali ini pilihan waktuku pas karena pengunjung tidak sebanyak saat akhir pekan. Aku jadi lebih nyaman berlibur ke Jatim Park 3.

Tapi sayangnya peminat museum tidak sebanyak pengunjung di Dino Park dan wahana lainnya. Rupanya hanya aku satu-satunya pengunjung saat itu. Okelah tak masalah, aku jadi leluasa menyaksikan koleksi museum tanpa terganggu dengan pengunjung lain.

Tiket masuknya 75 ribu. Ada tiga lantai. Lantai pertama diisi oleh aneka ragam alat musik, baik instrumen musik tradisional maupun alat musik modern, juga beberapa ikon musik Indonesia. Kemudian di lantai dua tentang aneka ragam genre. Lantai teratas adalah tentang alat-alat musik klasik.

Di lantai satu ini ikon musik Indonesia ada tiga. Sebagai tuan rumah ada Krisdyanti dan Yuni Shara. Keduanya telah merilis banyak album dan masih eksis hingga saat ini. Lagu-lagu keduanya yang beken di antaranya “Mencintaimu” dan “Menghitung Hari” untuk Krisdayanti serta “Mengapa Tiada Maaf” dan “Hilang Permataku” untuk Yuni Shara.

Kemudian juga ada Ebiet G. Ade yang lagu-lagunya tentang cinta sesama manusia dan cinta ke alam. Aku ingat ibu punya koleksi album “Camellia”, album Ebiet yang sukses, dari “Camellia I-IV”.

Peralatan musik-musik etnik yang dipajang bukan hanya dari Indonesia, melainkan dari mancanegara. Rata-rata terdiri dari jenis alat musik petik, gesek, tabuh, dan tiup.

Musik dulu banyak digunakan sebagai bagian dari upacara. Ada berbagai alat musik yang sudah ada sejak jaman dulu, seperti santoor, alat musik yang diambil dari bahasa Sansekerta dan digunakan di Mesopotamia dan Babilonia sejak ratusan abad sebelum masehi.

Kemudian, musik ditampilkan dalam perayaan. Baru pada abad-abad berikutnya musik digunakan sebagai media hiburan.

Koleksi di lantai satu dibagi berdasarkan musik modern dan musik etnik. Musik tradisional ini dikelompokkan berdasarkan negara dan zonasinya. Musik Timur Tengah, misalnya. Instrumennya banyak berupa alat musik petik seperti rebab dan gitar Arab. Juga ada alat musik tabuh seperti rebana.Lantai atas adalah tentang alat musik klasik. Aku baru ngeh rupanya perkembangan musik tekan seperti organ dan piano itu memerlukan waktu yang lama hingga ke bentuk sekarang.

Music box juga banyak disukai terutama kalangan bangsawan. Bentuknya juga beragam. Beberapa bikin aku teringat film horor sehingga aku cepat beralih. Apalagi di sini aku sendiri hehehe. Juga ada aneka gramofon.

Wah sebenarnya aku masih ingin menyimak lagi dan mencobai alat-alat musik tersebut. Ada sejumlah alat musik yang bikin penasaran seperti apa sih musik yang dihasilkan.

Setelah berkunjung ke Museum Musik Dunia ini aku jadi ingin mampir lagi ke Museum Musik Indonesia. Belajar tentang musik itu sungguh menyenangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here